APBN Defisit Rp240,1 Triliun per Agustus 2026, Menkeu: 0,93 Persen PDB

Sabtu, 19 September 2026 | 04:46:32 WIB

BALANS.ID — Menteri Keuangan Suahasil Nazara melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen dari produk domestik bruto hingga 31 Agustus 2026. Keseimbangan primer tercatat positif dengan pendapatan negara Rp2.055,6 triliun dan belanja Rp2.295,7 triliun. Suahasil menilai perjalanan APBN tahun ini relatif on track meski tekanan global meningkat.

Defisit anggaran tercatat Rp240,1 triliun, setara 0,93 persen dari produk domestik bruto. Suahasil menyebut keseimbangan primer berada di posisi positif sehingga pembiayaan utang tidak menutup seluruh kebutuhan belanja.

Penerimaan Pajak Tumbuh 24,1 Persen

Dari sisi penerimaan, setoran pajak tumbuh 24,1 persen secara tahunan. Penerimaan negara secara keseluruhan naik 25,4 persen, sementara kepabeanan dan cukai serta Penerimaan Negara Bukan Pajak bergerak positif.

Belanja kementerian dan lembaga menjadi komponen yang tumbuh paling kuat. "Penerimaan tumbuh sangat sehat 25,4 persen, pajaknya juga tumbuh sangat sehat 24,1 persen," ujar Suahasil dalam pemaparan tersebut.

The Fed Naikkan Suku Bunga, Tekanan Global Meningkat

Suahasil menyoroti keputusan Federal Reserve Amerika Serikat menaikkan suku bunga ke level 5 persen dua hari sebelum pemaparan. Ia memperkirakan banyak pihak mengantisipasi suku bunga bertahan lebih lama di level tinggi atau higher for longer.

Konflik di Timur Tengah yang belum selesai menambah ketidakpastian. Kementerian Keuangan memantau posisi Indonesia di tengah gejolak tersebut, termasuk pergerakan harga komoditas seperti minyak brent, CPO, nikel, batu bara, emas, dan tembaga.

Komoditas-komoditas itu berpengaruh langsung terhadap transaksi dan kinerja ekonomi nasional. Nilai tukar rupiah juga melemah akibat faktor geopolitik dan pergerakan yield Surat Berharga Negara.

Inflasi Agustus 3,19 Persen, Masih dalam Kisaran Target

Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara year on year. Angka itu berada dalam kisaran prediksi pemerintah, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen.

Pertumbuhan ekonomi tahun ini diproyeksi 5,45 persen. Sektor riil dinilai tetap resilien dengan konsumsi masyarakat yang sehat, terlihat dari penjualan motor, mobil, semen, dan listrik yang masih tumbuh.

Purchasing Managers' Index manufaktur bergerak mengikuti dinamika global. Suahasil menambahkan, arus modal masuk mulai pulih dengan akumulasi inflow Rp141,6 triliun sepanjang 2026 hingga triwulan III.

Pemerintah akan terus memantau dampak suku bunga global terhadap pembiayaan dan nilai tukar. Kementerian Keuangan menegaskan posisi APBN tetap terjaga di tengah ketidakpastian yang berlanjut.

Terkini